Beranda Index Ekonomi Usai Mogok 3 Hari, Produsen Tahu dan Tempe di Sidoarjo Mulai Aktif...

Usai Mogok 3 Hari, Produsen Tahu dan Tempe di Sidoarjo Mulai Aktif Kembali

produksi tahu di Sidoarjo mulai aktif lagi

SIDOARJO, Xtimenews.com – Naiknya harga kedelai import sangat berdampak kepada produsen tahu dan tempe di Sidoarjo. Di awal tahun 2021, para produsen tahu dan tempe melakukan aksi demo mogok produksi selama tiga hari ke belakang secara Nasional.

Namun, hari ini tahu dan tempe di Sidoarjo mulai diproduksi kembali dengan cara menaikan harga tanpa harus mengurangi ukuran per potong. Hal ini dilakukan untuk menyiasati kenaikan harga kedelai import sebagai bahan baku tahu dan tempe.

“Setelah libur 2 hari produksi pertama langsung di harga Rp 29 ribu, ukuran tahu tetap tidak ada perubahan cetak,” ucap Muhammad Farid salah satu produsen tahu di Desa Sepande, Sidoarjo. Senin, (4/1/2021).

Farid mengatakan, sebelumnya ia menjual tahu seharga Rp. 27 ribu per papan, kemudian naik menjadi Rp. 28 ribu per papan, untuk hari ini harga tahu hasil produksinya mencapai harga Rp. 29 ribu. Sedangkan harga kedelai perkilo hari ini mencapai Rp. 9.150, sebelumnya sekira Rp. 7500 perkilo.

“Harga kedelai yang paling sesuai mahal ya hari ini, dulu sehari bisa menghabiskan 5 sampai 6 kwintal kedelai, sekarang menurun jadi 4.5 kwintal saja,” terang pengusaha tahu mulai tahun 1999 ini.

Sementara itu, di tempat terpisah, Karlin, produsen tempe asal Desa Sepande, Sidoarjo mengatakan dampak dari kenaikan harga kedelai berimbas pada keuntungannya yang semakin menurun. Hal ini dikarenakan pihaknya tidak ingin mengecewakan konsumen dengan mengurangi ukuran tempe. Namun dirinya mengaku setelah aksi demo mogok selama 3 hari ia bisa mendapatkan keuntungan seperti biasanya.

“Setelah mogok 3 hari saya naikan harganya, Alhamdulillah untungnya agak lumayan. Biasanya saya jual per iris Rp. 10 ribu sekarang naik menjadi Rp. 12.500,” terang Karlin kepada Xtimenews.com.

Karlin menambahkan bahwa setelah melakukan aksi demo mogok produksi selama tiga hari permintaan tempe meningkat terutama dari para pelanggan.

Menurut pengalamannya sebagai produsen tempe sejak tahun 1977, setiap tahun baru kondisi kedelai pasti langka hal ini dikarenakan harga kedelai import mengalami kenaikan. Namun, kondisi seperti ini tidak akan lama.

“Sekitar bulan Februari atau Maret pasti turun. Biasanya panen di Amerika terjadi pada bulan Oktober hingga November jd naik turun sudah tau. Kenaikan seperti ini tidak akan lama,” tutupnya.(vin/den/gan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here