Beranda Pemerintahan Cerita Pengelola LBB Pertahanankan Kampung Bahasa di Kota Mojokerto

Cerita Pengelola LBB Pertahanankan Kampung Bahasa di Kota Mojokerto

Caption : Sri Widarti (47) ketua paguyuban Pulo Bahasa kota Mojokerto.

MOJOKERTO, Xtimenews.com – Kisah seorang guru pembimbing di Kampung bahasa Pulorejo di kota Mojokerto yang mempertahankan lembaga bimbingan belajar (LBB) bahasa Inggris.

Sri Widarti (47) ketua paguyuban Pulo Bahasa kota Mojokerto menceritakan dimana dirinya mempertahankan LBB yang diasuh olehnya hingga rela merogoh kantong sendiri untuk mengontrak sebuah rumah dan dijadikan sebuah LBB bahasa Inggris di Kelurahan Pulorejo.

“Saya sewa tempat ini seharga Rp 4 juta satu tahun untuk LBB bahasa Inggris,” kata Sri saat ditemui di kantor LBB di Jalan Raya Pulorejo No 132, Selasa (08/10/2019)

Untuk mempertahankan LBB yang dikelola olehnya, ia juga sudah melakukan berbagai cara. Setiap bulan para peserta didiknya harus iuran sebesar Rp 25 ribu untuk menggaji tutor.

“Salah satunya untuk menggaji tutor sebesar Rp 1 juta perbulan,” jelasnya.

Tidak hanya itu saja, dirinya juga sudah melakukan pendekatan kepada masyarakat sekitar untuk mengajak mengikuti kegiatan belajar bahasa Inggris. Bahkan Sri, rela mendatangi warung-warung kopi hanya untuk sekadar mengajak ngobrol pedagangnya dengan menggunakan bahasa Inggris.

“Kadang saya beli kopi hanya untuk sekadar mengajak ngobrol dengan menggunakan bahasa Inggris. Kalau bisa saya kasih lebihan seribu rupiah harga kopinya,” tegasnya.

Menurutnya, saat ini ada sekitar 8 LBB yang masih aktif dan para pesertanya pun tidak lebih dari 60 orang. Mulai dari anak-anak SD hingga anak kuliah.

“Waktu masih bersatu dengan pemerintah dulu pada tahun 2016-2017 masih rame. Pemerintah saat itu sering membuat even-even gebyar bahasa,” ungkapnya.

Sri menganggap Kampung bahasa Pulorejo saat ini tidak lagi mendapat perhatian dari Pemkot Mojokerto. Pemerintah dianggap mengalihkan kampung bahasa ke Kecamatan Kranggan.

“Ada peralihan gebyar bahasa ke Kranggan. Kami tidak dilibatkan, perjuangan kami tidak dihargai. Namun kami tetap mengondisikan sebagai kampung bahasa di sini meski tidak ada ikut campur pemerintah. Bagaimana pun kondisinya kami tetap bertahan,” pungkasnya.(den/gan)