Beranda Index Headline Seniman Wayang Klaras Asal Mojokerto

Seniman Wayang Klaras Asal Mojokerto

Agus Sugiyanto (59) seniman dalang Wayang klaras asal Dusun Gambiran, Desa Kuwatu, Kecamatan Mojoanyar Kabupeten Mojokerto.

MOJOKERTO, Xtimenews.com – Seiring berkembangnya zaman, generasi saat ini memang tak begitu lekat dengan kesenian maupun budaya tradisional. Anak-anak generasi milenial saat ini lebih memilih hal-hal yang berbau moderen. Baik permainan, maupun budaya-budaya asing yang masuk ke negeri ini.

Hal itulah yang dirasakan oleh Agus Sugiarto (59) seniman dalang wayang klaras asal Dusun Gambiran, Desa Kuwatu, Kecamatan Mojoanyar Kabupeten Mojokerto.

Agar anak-anak tetap mengenal budaya tradisional, kakek tiga anak dan dua cucu ini melakukan berbagai kreasi dan inovasi. Salah satunya adalah menyulap pelepah Pisang dan slumpring bambu menjadi wayang yang diberi nama wayang klaras. Melalui media ini, ia menularkan nilai-nilai kehidupan, cinta seni budaya kepada anak-anak generasi milineal.

“Generasi sekarang sudah menyimpang dari budaya, sudah tidak mengenal wayang. Banyak anak-anak dijaman sekarang yang lebih memilih bermain permainan di hanphone (HP),” kata Agus, Sabtu (13/07/2019).

Wayang yang dibuat Agus Sugiyanto ini memang kelihatan seperti wayang kulit biasanya. Namun Ia membuatnya dengan bahan pelepah pisang dan slumpring bambu. Dua bahan ini banyak ditemukan di Desa dan perkampungan pinggiran.

“Badan wayang terbuat dari pelepah pisang dan slumpring bambu. Untuk pegangan wayang terbuat dari batang tebu,” jelas Agus.

Menurutnya, wayang klaras artinya tulus hatinya tegak imannya. Wayang klaras yang dia buat itu digunakan untuk menghibur anak-anak generasi muda milineal di Kafe-kafe yang ada di Mojokerto.

Agus setiap hari berjalan-jalan ke berbagai lokasi dan setiap ada Kafe ia langsung perform di Kafe tersebut. “Ya intinya ingin menghibur dan mengenalkan wayang klaras kepada anak-anak jaman sekarang agar tidak melupakan budaya. Ada sekitar 20 kafe setiap harinya,” papar Agus.

Baca Juga ;  Ledakan Elpiji 12 Kilogram di Mojokerto Satu Rumah Rusak Berat

Kata Agus, sebelum dia berkeliling ke Kafe-kafe setiap pagi dia harus membuat wayang klaras terlebih dahulu di rumahnya. Membuat pesanan yang sudah dipesan oleh para pelanggannya. Dalam sehari ia bisa membuat dua sampai tiga wayang. “Jam 2 siang baru keliling, kalau pagi ya bikin wayang dulu karena saya juga melayani pemesanan,” ujarnya.

Agus menambahkan, menjadi seniman wayang klaras ini sejak tiga tahun yang lalu. Sebelumnya dia adalah seorang pelukis karakter pewayangan. Kemudian dia mencoba membuat wayang dari pelepah pisang dan slumpring bambu yang dikeringkan dan di bentuk sebuah wayang, kemudian diberikan pernis atau cat pelitur.

“Sejak kecil saya sudah diajarkan membuat gambar wayang oleh orang tua saya. Saya dulu juga dalang kondang dari Sragen Jawa tengah,” paparnya.

Melalui media wayang klaras itu, dia berharap agar anak-anak generasi milineal dapat menyerap pesan moral dari setiap cerita-ceritanya. Agus sendiri selalu memberikan cerita yang berbeda setiap dia mendatangi Kafe-kafe dan menghibur para pengunjung.

“Ya alhamdulillah ada saja yang berbagi sedikit rejeki saat saya memamerkan wayang klaras sambil menceritakan lakon-lakon perwayangan. Sehari keliling biasanya bawa pulang uang Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu,” jelasnya.

Namun tujuan utamanya adalah mengenalkan dunia perwayangan kepada anak-anak generasi milineal agar tidak melupakan budaya daerah, khususnya perwayangan.

“Saya biasanya juga melayani panggilan orang-orang yang punya hajat. Kalau dipanggil pada acara hajatan saya patok tarif Rp 700 ribu dalam durasi waktu 3 sampai 4 jam,” tandas Agus.(den/gan)